Penindasan dan Kekejaman Israel Kepada Rakyat Palestina Menjadi Sejarah Dunia, Presiden Erdogan: Tak Dapat Diampuni

oleh

BERITAJAKARTA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali mengecam penindasan dan kekejaman Israel terhadap warga Palestina. Kekejaman Israel diperlihatkan dengan membunuh puluhan warga Palestina yang rumah dan tanahnya direbut zionis Israel.

Presiden Erdogan juga mengecam atas peresmian ‘ilegal’ kedutaan besar (kedubes) AS di Al Quds. Dikutip dari Aljazeera,  hal itu ia sampaikan dalam sebuah acara di London, Inggris.

“Sejarah dan hati nurani manusia tidak akan memaafkan penindasan yang dilakukan kepada saudara kami di Palestina. Jalan satu-satunya untuk mengakhirinya adalah dengan pendirian negara Palestina berdaulat berdasarkan batas-batas tahun 1967 dengan Al-Quds timur sebagai ibu kota,” tegas Erdogan.

Dalam kesempatan itu, Erdogan presiden yang dikagumi dunia ini kembali mengecam pemindahan dan peresmian Kedubes AS di Al-Quds. Menurutnya, hal itu melanggar resolusi-resolusi PBB. Selain itu, Erdogan juga menyebut Washington mengiming-imingi uang kepada negara yang mendukung keputusannya.

“Mereka memindah kedutaan sesuka hati, sementara ada 128 negara di PBB yang tegas menyebut Al-Quds adalah ibu kota Palestina. Ini juga sikap kami sebagai dunia Islam,” kata Erdogan.

Lebih lanjut, Erdogan juga menyebut pemindahan kedutaan ke Al-Quds menjadi kerugian bagi Palestina. Padahal, menurutnya, selama ini Palestina sangat tulus menginginkan perdamaian.

“Washington merusak kredibilitasnya sendiri di mata dunia internasional. Ia juga merugikan perannya sebagai sponsor perdamaian untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel melalui langkah yang bertentangan dengan perasaan kemanusiaan yang benar dan adil,” imbuhnya.

Erdogan menjelaskan, sikap AS semakin terang dalam melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional, menentang keinginan masyarakat internasional serta meghantam fakta sejarah dan sosial. Hal itu menujukkan negeri Paman Sam membela Israel, meski Israel telah melakukan pembunuhan secara keji terhadap warga Palesina. (*)