Harley Davidson akan Pindahkan Basis Produksi dari Amerika 

oleh

BERITAJAKARTA – Harley Davidson berencana untuk memindahkan basis produksi mereka dari AS. Hal ini untuk melindungi permintaan konsumennya di Uni Eropa. Pasalnya, rencana pemindahaan ini juga untuk menghindari peningkatan tarif impor yang akan meningkatkan ongkos produksi perusahaan hingga 100 juta dollar AS per tahun.

Dilansir kompas, pada perdagangan Senin, (25/6/2018), saham Harley anjlok hingga 7 persen, dan analis memrediksi laba perusahaan akan terpangkas seiring dengan proses adaptasi Harley terhadap penerapan bea impor sebesar 25 persen untuk Uni Eropa yang mulai diberlakukan pada 22 Juni 2018 lalu.

Padahal, Presiden Donald Trump sebelumnya sempat mengatakan, Harley merupakan salah satu perusahaan yang akan diuntungkan oleh kebijakan tarifnya. Namun, pihak Harley mengatakan pada akhir April lalu, penerapan tarif baja oleh Trump dapat meningkatkan biaya produksi tambahan sebesar 15 hingga 20 juta dollar AS di tahun 2018 ini. Angka tersebut belum termasuk peningkatan biaya bahan mentah lainnya yang terjadi pada awal tahun.

Di sisi lain, Uni Eropa pun kemudian merespon kebijakan Trump tersebut dengan menerapkan tarif sebesar 25 persen untuk beberapa produk AS termasuk produsen motor besar, Harley Davidson.

Pada Senin, (25/6/2018), Harley mengatakan tindakan pembalasan tarif oleh Uni Eropa akan menambah biaya hingga 2.200 dollar AS per motor yang akan diekspor dari AS ke Uni Eropa. Dalam catatannya, perusahaan menambahkan, pemberlakuan tarif akan menambahkan biaya tambahan sebesar 30 hingga 40 juga dollar AS pada sisa tahun 2018 ini.

“Harley Davidson meyakini peningkatan biaya yang luar biasa, jika diteruskan kepada dealer dan konsumen ritel akan memberikan dampak yang merugikan terhadap jalannya bisnis di kawasan tersebut,” ujar perusahaan melalui keterangan tertulisnya.

Dikutip melalui CNBC, untuk menutupi merosotnya permintaan dari pasar AS, Harley telah menargetkan untuk meningkatkan penjualan luar negeri tahunan mereka hingga 50 persen, dari yang sebelumnya 43 persen.

Sebelumnya, pada Januari lalu, Harley juga telah mengumumkan tutupnya pabrik di Kansas sebagai salah satu rencana konsolidasi paska jatuhnya jumlah pengiriman sepeda motor mereka pada tahun 2017 lalu. Jumlah sepeda motor yang terjual di pasar Uni Eropa pada tahun tersebut sebesar 40.000 sepeda motor baru, atau lebih dari 16 persen penjualan perusahaan.

Pendapatan dari penjualan sepeda motor di negara-negara Uni Eropa berada pada peringkat kedua setelah Amerika Serikat. Perusahaan motor besar ini mengatakan, peningkatan produksi di pabrik internasional luar negeri akan membutuhkan investasi tambahan serta dapat memakan waktu setidaknya 9 hingga 18 bulan. Selain itu, Harley juga akan memberikan rincian dampak keuangan akibat tarif balasan yang diberlakukan UE pada tanggal 24 Juli 2018 mendatang. (*/kompas)