OPINI: Ketika Kemanusiaan Memanggil dari Negeri Singa

oleh

BERITAJAKARTA.COM, Jakarta – Meski sebagian tertutup masker, wajah bahagia bu Ani Yudhoyono jelas terpancar. Ia membentangkan kedua tangannya, ekspresi kebahagiaan yang luar biasa, sambil duduk di atas kursi roda yang didorong pak SBY, dan menantunya Anissa Larasati Pohan. Koran Jawa Pos memajang foto ini sebagai headline photo di halaman pertama edisi Jumat Pahing, 17 Mei 2019.

Siapa yang tidak bahagia manakala dapat kesempatan menyaksikan kembali dunia luar, setelah berbulan-bulan lamanya berada dalam ruang tertutup? Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit 9 Februari lalu, Ibu Ani Yudhoyono diperbolehkan tim dokter untuk keluar dari rumah sakit.

Fenomena Media

Kontan berita ini langsung menjadi berita hangat di tanah air. Aplikasi analisa lintas media (cross platform media analytics) Astramaya mencatat, paling tidak ada 107 artikel media daring (online) yang terbit pada tanggal tersebut, di luar berita-berita yang dimuat media televisi, radio dan cetak.

Belum lagi percakapan di berbagai kanal media sosial. Astramaya menggunakan teknologi natural language processing dan machine learning untuk menganalisa data yang dikumpulkan nyaris seketika (near real time) dari berbagai kanal media sosial maupun media daring.

Sakitnya bu Ani Yudhoyono memang menjadi fenomena media tersendiri. Selama periode pemantauan 11 Februari-18 Mei 2019 (98 hari kalender), tercatat ada 6.461 artikel media daring yang memberitakan perkembangan kesehatan bu Ani, atau rata-rata hampir 66 artikel per hari, termasuk akhir pekan.

Tiga media daring yang paling banyak memuat berita tentang bu Ani adalah Liputan6.com (319 artikel), detik.com (305 artikel) dan akurat.co (265 artikel). Rentang topiknya juga beragam, mulai dari simpati publik, kesehatan pribadi hingga politik.

Pusat Gravitasi Baru

Di antara ragam topik itu, topik politik yang rupanya paling banyak menarik perhatian media berita maupun netizen. Sepanjang periode pemantauan, dari lima peak of mentions (puncak-puncak percakapan) yang terpantau pada media sosial Twitter, tiga di antaranya bersifat politis.

Pada tanggal 14 Februari, kedatangan calon Presiden Prabowo Subianto menjenguk di rumah sakit dicuitkan dalam 12.206 mentions dan diberitakan oleh 175 artikel media daring.

Percakapan memuncak lagi dengan volume lebih tinggi ketika Presiden Jokowi juga datang menengok tanggal 21 Februari (14.959 mentions). Volume pemberitaannya mencapai 534 artikel, hampir tiga kali lipat lebih tinggi, ketimbang saat kunjungan Prabowo.

Kunjungan calon wakil Presiden Sandiaga Uno tanggal 22 Februari juga ramai dipercakapkan netizen dengan volume sedikit lebih tinggi (15.022 mentions) dan diberitakan dalam 304 artikel media daring.

Dua puncak penyebutan yang bersifat non politis adalah saat mantan Presiden SBY secara terbuka menyampaikan kabar bu Ani yang didiagnosa sakit kanker darah, tanggal 13 Februari. Ini dicuitkan dalam 11.821 mentions dan diberitakan dalam 903 artikel.

Berikutnya, saat bu Ani diperbolehkan jalan-jalan keluar rumah sakit tanggal 17 Mei lalu. Terekam 9.119 cuitan netizen dan 107 artikel berita.Perhatian media dan netizen di dunia maya ini juga sejalan dengan perhatian di dunia nyata yang terwujud dalam bentuk kunjungan ke rumah sakit.

Praktis semua tokoh politik nasional dan daerah, baik yang masih aktif maupun yang tidak, baik kawan maupun lawan politik, menyempatkan diri menengok bu Ani di Singapura.

Dari luar negeri, Perdana Menteri dan Presiden Singapura menjenguk secara terpisah. Mantan Presiden pertama dan juga mantan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao juga datang menengok. Meskipun demikian, tidak semua tamu dibolehkan naik ke ruang perawatan bu Ani.

Tercatat hanya Presiden Jokowi dan istri, calon Presiden Prabowo, mantan Presiden BJ Habibie, mantan Wapres Boediono dan istri serta PM Singapura Lee Hsien Loong dan istri serta Presiden Singapura Halimah Yacob dan suami yang diizinkan langsung bertemu bu Ani. Besarnya perhatian baik di dunia maya maupun di dunia nyata membuat seolah-olah bu Ani menjadi pusat gravitasi perhatian nasional yang baru.

Praktis tiap hari, media selalu memberitakan, netizen rajin mempercakapkan dan ada saja yang datang ke National University Hospital di Singapura. Pak SBY sempat dikabarkan kelelahan melayani tamu-tamu yang datang, saking seringnya. Padahal di tanah air, hiruk pikuk pemberitaan, percakapan maupun kegiatan kampanye pemilu sejak awal Januari 2019 menunjukkan peningkatan pesat, dibanding periode kampanye September-Desember 2018.


Simpati dan Kemanusiaan

Kenapa sakitnya bu Ani mendapat perhatian begitu besar? Amatan atas word cloud (kumpulan kata yang paling sering muncul) di empat kanal media sosial: Twitter, Facebook, Instagram dan Youtube, memperlihatkan kata-kata yang paling sering muncul adalah: sembuh atau ksembuhan, semoga dan doa. Word cloud pada media daring menunjukkan kata-kata yang sering muncul adalah menjenguk, Prabowo dan Jokowi.

Tingginya frekuensi kemunculan kata-kata yang bernada simpati ini mencerminkan simpati publik dan elit politik, tanpa memandang perbedaan pandangan politik.

Patut diingat pada saat yang sama, polarisasi identitas sedang menguat, sebagai efek kontestasi calon presiden-wakil presiden yang hanya dua pasang.

Faktor bu Ani yang pernah menjadi Ibu Negara mendampingi Presiden SBY yang memerintah tahun 2004-2014, juga patut jadi pertimbangan. Pada rentang tahun inilah, generasi milenial akhir dan generasi Z lahir serta besar.

Jumlah penduduk berusia 17-40 tahun pada saat ini diperkirakan mencapai sekitar 100 jutaan atau setara dengan 40 persen penduduk Indonesia. Saat ini, merekalah yang menjadi konsumen media terbesar, baik melalui media sosial maupun media daring. Wajar jika memori mereka terhadap bu Ani, masih kuat.

Di sisi lain, sebagai mantan Presiden yang masih aktif terlibat dalam percaturan politik nasional sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, pak SBY menjadi tokoh senior yang pandangan dan keputusannya dipandang oleh berbagai pemangku kepentingan politik nasional maupun daerah.

Selain itu, ini juga kita bisa baca sebagai refleksi dari sifat bangsa Indonesia yang pada dasarnya mudah bersimpati pada sesamanya dan menjunjung tinggi kemanusiaan, sedemikian kuatnya hingga melampaui sekat-sekat politik maupun primordial.

Fenomena besarnya perhatian netizen, media maupun para elit politik tanpa memandang latar belakang terhadap sakitnya bu Ani ini mengisyaratkan bagaimana kemanusiaan bisa menjadi salah satu pintu upaya bangsa Indonesia untuk kembali merekatkan polarisasi identitas yang terjadi selama kompetisi pemilu lalu.(liputan6/***)