Jejak Sejarah dan Perjalanan Menuju Kemajuan Provinsi Banten

oleh -92 views
Masjid Agung Banten

BERITAJAKARTA.CO.ID –¬†Provinsi Banten, sebuah medan yang kaya akan cerita dan kekayaan alam yang tak ternilai. Meskipun ukurannya relatif kecil dibandingkan dengan tetangganya, Jawa Barat, namun pesona dan potensi yang dimilikinya tidak bisa diabaikan.

Provinsi Banten, seakan menjadi bukti bahwa ukuran bukanlah segalanya. Dibanding daerah induknya, Jawa Barat (Jabar) sangat jauh berbeda, wilayah Jabar memiliki luas 44.354,61 Km2 yang terdiri dari 16 kota dan 10 kabupaten.

Sedangkan Provinsi Banten hanya memiliki luas sebesar 8.651,20 Km2 dan meliputi empat kota serta empat kabupaten.

Kendati demikian Provinsi Banten mampu memukau dengan keindahan dan keberagaman alamnya. Letaknya yang strategis, kondisi alam yang unik, dan kekayaan alam yang melimpah menjadikan Banten sebagai destinasi yang tak terlupakan.

Jejak Sejarah

Sebagai bagian dari Pulau Jawa, Provinsi Banten memiliki sejarah yang membanggakan. Dari masa kejayaan kerajaan hingga era kolonial, Banten mempertahankan warisan bersejarahnya dengan megah. Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pernah menjadi pusat perdagangan internasional yang gemilang. Bukti-bukti kejayaan masa lalu masih dapat kita saksikan melalui peninggalan bersejarah yang tersebar di seluruh kawasan Banten Lama.

Banyak kejayaan yang dicapai pada masa kerajaan kemudian menginspirasi dan menjadi ikon suatu daerah. Contohnya Provinsi Jawa Timur yang mendapat pengaruh kejayaan Kerajaan Majapahit dan Kediri.

Sedangkan Provinsi Jawa Tengah mendapatkan pengaruh dari Kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta. Selain itu Daerah Istimewa Yogyakarta tak terlepas dari pengaruh Mataram Yogyakarta. Begitu pula Jawa Barat identik dengan Kerajaan Pajajaran.

Secara historis, Kesultanan Banten pernah mengalami puncak kejayaan, terutama pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1692). Banten bukan hanya menjadi pusat penyebaran agama Islam, tetapi pelabuhan Banten dikenal sebagai pusat perdagangan internasional yang termashur.

Bukti-bukti kejayaan Kesultanan Banten bisa ditelusuri melalui beberapa literatur. Sedangkan bukti fisik yang bisa disaksikan yakni sisa-sisa peninggalan masa lalu, seperti situs bangunan keraton Surosowan Kesultanan Banten, benda-benda peninggalan yang tersimpan di Museum Kepurbakalaan Banten, dan Masjid Agung Banten. Semua berada di kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Pengaruh masa kolonial, seperti diketahui melalui sejarah tentang beberapa kota di provinsi di Pulau Jawa. Kota Surabaya di Jawa Timur, Semarang di Jawa Tengah, Bandung di Jawa Barat, dan Yogyakarta merupakan pusat pendudukan kolonial sekaligus basis perjuangan masyarakat pribumi merebut kemerdekaan.

Sebagai daerah penting, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, setelah VOC dibubarkan, di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels (1808-1811), di Anyer dan Ujung Kulon, dibangun pangkalan armada laut. Oleh Daendels Anyer juga dijadikan titik nol proyek monumental pembangunan jalan raya trans Jawa hingga ke Panarukan Jawa Timur. Peninggalan di Anyer berupa mercusuar, menara pemantau kapal-kapal laut yang hingga kini masih berdiri kokoh.

Kejayaan masa lalu Banten bukan hanya menjadi kenangan. Peninggalan berupa fisik dapat berfungsi untuk bahan kajian ilmiah dan sarana wisata. Warisan berupa nilai-nilai agama maupun budaya menjadi pijakan bagi pembangunan Provinsi Banten.

Momentum kebangkitan Provinsi Banten terjadi pada 4 Oktober 2000, ketika provinsi ini resmi terbentuk. Dengan segala potensi yang dimilikinya, Banten mampu menorehkan prestasi yang membanggakan. Dukungan dari masyarakat serta berbagai program pembangunan yang digulirkan menjadikan Banten sebagai salah satu lokomotif pembangunan nasional.

terbentuknya Provinsi Banten pada tanggal 4 Oktober 2000 bagaikan napak tilas kejayaan Banten masa lampau. Dengan segala potensi yang dimiliki Banten mampu menunjukkan kemajuannya. Tahun 2007 menduduki peringkat ke empat dalam hal peningkatan APBD.

Provinsi Banten memiliki potensi alam cukup tinggi. Secara topografi terdiri atas dua bagian besar, yaitu, daerah perbukitan di sebelah selatan (Kabupaten Lebak dan Pandeglang) dan daerah dataran rendah di bagian lainnya. Terdiri dari empat kota (Kota Serang, Tangerang, Cilegon, dan Kota Tangerang Selatan) dan empat kabupaten (Kabupaten Serang, Tangerang, Pandeglang, dan Kabupaten Lebak).

Kota Tangerang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Serang adalah daerah dengan aktivitas ekonomi cukup tinggi karena merupakan kawasan industri, terutama industri manufaktur. Kabupaten Lebak dan Pandeglang merupakan daerah hijau, hutan dan perkebunan banyak terdapat di sana. Adapun Kota Tangerang Selatan merupakan kota jasa, perdagangan, serta banyak lembaga pendidikan bergensi dan bertaraf internasional. Maklum, di kota ini banyak tinggal tokoh intelektual, tokoh nasional, dan kaum ekspatriat.

Tentang internasional, Provinsi Banten memiliki Taman Nasional Ujung Kulon, di Kabupaten Pandeglang yang masih hidup populasi hewan langka yang di dunia hanya ada di Ujung Kulon. Bandara internasional Soekarno-Hatta merupakan gerbang utama Indonesia berada di Kota Tangerang. Bahkan telah direncanakan pembangunan pelabuhan bertaraf internasional di Kramatwatu, Serang. Kondisi demikian membuat peningkatan APBD Provinsi Banten meningkat signifikan setiap tahun.

Sektor pariwisata, Porivinsi Banten yang ketiga sisinya dikelilingi laut, dari Cilegon hingga Labuhan jalan melingkar menyusur tepi pantai Selat Sunda merupakan kawasan wisata sangat kesohor. Hotel dan villa berjejer siap memanjakan setiap wisatawan dengan pemandangan Gunung Krakatau yang penuh cerita di lepas pantai. Pelabuhan penyeberangan ke Sumatera menambah Provinsi di ujung barat Pulau Jawa ini sangat sibuk. Dihubungkan oleh ruas tol langsung sampai Jakarta. Apalagi kalau pembangunan mega proyek jembatan Selat Sunda yang jauh lebih panjang dari jembatan Suramadu terealisasi, membuat Provinsi Banten kian melambung.

Provinsi Banten dibentuk berdasarkan UU No. 23 Tahun 2000 tertanggal 17 Oktober tahun 2000. Adapun puncak perayaan terjadi pada tanggal 4 Oktober 2000 saat puluhan ribu masyarakat Banten datang ke Gedung DPR RI di Senayan Jakarta, dengan Sidang Paripurna DPR untuk pengesahan RUU Provinsi Banten. Akhirnya, masyarakat Banten pun sepakat tanggal 4 Oktober 2000 sebagai Hari Jadi Provinsi Banten yang saat itu dipimpin oleh H.D. Munandar sebagai Gubernur dan Ratu Atut Chosiyah sebagai wakil Gubernur.

 

Sumber: bantenprov.go.id

No More Posts Available.

No more pages to load.